Wanita Yang Baik Untuk Laki -laki Yang Baik
Ada seorang teman yang bertanya kepada saya, “bagaimana menurutmu tentang ungkapan ayat al-Qur’an bahwa wanita yang baik adalah untuk laki -laki yang baik ? Karena banyak fenomena yang terjadi -misalnya, seorang wanita yang baik -baik menikah dengan seorang laki -laki bajingan (tidak baik) baik dari aspek akhlak maupun ibadahnya…”
Saya berpikir sederhana saja, dan menjawab dengan sederhana pula. Terus terang, kalau untuk pemahaman al-Qur’an, saya masih sangat awan. Baru bisa berusaha rutin tilawah saja.
Menurut saya, ‘baik’ di sini -jika dilihat dari kacamata agama yang saya yakini, Islam, adalah seseorang yang baik akhlaknya (sosial/hablumminannaas) dan baik ibadahnya (hablumminalloh). Memang ukurannya sangat relatif, apalagi kita kan hanya bisa menilai dari apa yang bisa kita lihat dan kita dengar. Sedangkan untuk masalah hati -yang sesungguhnya kebaikan itu ada di sana, hanya Alloh yang bisa mengetahuinya.
Maksud teman saya itu adalah, misalnya seorang akhwat (perempuan) yang semestinya menikah dengan seorang ikhwan (laki -laki), karena kadar nilai baik mereka.
Saya sendiri tidak memandang bahwa ‘wanita yang baik untuk laki -laki yang baik’ itu ada pada saat momen dimana seorang wanita yang amat sholehah/ baik menikahi pasangan sepadan kebaikannya (laki -laki sholeh). Tidak mesti seperti itu. Idealnya memang seperti itu, tapi tidak selalu.
Karena yang saya tahu, kebaikan itu juga adalah bagian dari proses. Jika pun ada wanita yang amat baik menikah dengan preman, tak pernah sholat, dan lain -lain, mungkin saja bahwa pernikahannya dengan wanita itu membawanya pada kehidupan yang lebih baik. Yang tadinya tak pernah sholat menjadi rajin sholat, misalnya. Karena jodoh kan Alloh yang mengatur. Semua kejadian ada hal baik di dalamnya, dan itu pasti yang terbaik bagi kita. Karena Alloh tahu yang terbaik bagi kita.
Jadi, bagi saya nilai ‘baik’ itu bukan hanya pada awalnya saja memang sudah baik, tapi bagaimana dia bisa berproses menjadi lebih baik, dan tentu menjadi lebih baik pula pada kesudahannya. Menjadi khusnul khatimah (baik di akhir). Jika ada sesuatu terjadi dalam proses itu, yang penting ada usaha dari kita untuk terus menjadi lebih baik. Yakinlah, bahwa tak ada sesuatu pun yang sia -sia di dunia ini.
Jadi, memang wanita yang baik itu adalah untuk laki -laki yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar